RESENSI NOVEL
BULAN TERBELAH DI LANGIT
AMERIKA
UNTUK MELENGKAPI TUGAS
MATA PELAJARAN BAHASA
INDONESIA
OLEH
MONICA YULIANTI
KELAS XII IPA-I
SMA NEGERI 1 KUALA
TAHUN PELAJARAN
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya ucapkn kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahka rahmat dan
karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan resensi novel yang berjudul “Penyatuan
Bulan di Langit Amerika”. Resensi ini saya buat untuk melengkapi tugas bahasa Indonesia.
Saya
mendapat adanya kesulitan dalam menyelesaikan resensi ini. Berkat bantuan Ibu
Guru Bahasa Indonesia, teman, dan orang tua, saya dapat menyelesaikan resensi
novel tepat pada waktunya. Saya mengucapkan terimakasih kepada Ibu Guru Bahasa
Indonesia, teman, dan orang tua atas bantuannya menyelesaiakan makalah ini.
Saya
menyadari bahwa resensi novel ini masih memunyai kekurangan. Saya berharap
kritik dan saran untuk memperbaiki resensi ini. Semoga resensi novel ini
berguna bagi pembaca.
Kuala, 12 Februari 2015
Penulis,
Monica Yulianti
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Resensi
merupakan pembicaraan atau pertimbangan suatu buku. Selain itu, resensi ini
juga dapat diartikan sebagai perihal untuk menilai sebuah buku tetang baik dan
buruknya buku atau novel tersebut, baik dari segi sifat luar maupun sifat
dalam.
Novel
adalah karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan
seseorang dan orang-orang sekelilingnya. Novel popular adalah novel yang
menampilkan masalah-masalah yang aktual dan menzaman.
Resensi
ini bertujuan memberikan pertimbangan kepada calon pembaca mengenai suatu novel
dengan cara memberikan sejumlah informasi mengenai kelebihan dan kekurangan
novel tersebut. Sehingga pembaca dapat mempertimbangkan apakah novel tersebut
cocok atau tidak untuk dibaca sesuai dengan keinginan pembaca.
Seperti
halnya dalam novel “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Novel ini menceritakan
tentang keterkaitan negara adidaya Amerika Serikat dengan Islam.
“ KETERKAITAN
ISLAM DENGAN AMERIKA”
1.2 Identitas Buku
Tahun Terbit :
2014
Edisi : Keempat (IV)
Tebal : 344 hlm
Harga : Rp75.000
1.3 Kepengarangan
Hanum Salsabiela Rais
Hanum
Salsabiela Rais adalah putri kedua Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan
dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga
mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karier menjadi jurnalis dan
presenter di Trans TV.
Tinggal
di Austria
selama 3,5 tahun bersama sang suami. Mengenyam pengalaman sebagai jurnalis dan
video podcast film marker di Executive Academy Vienna, dan sebagai koresponden untuk detik
dot com selama 3 tahun.
Tahun
2013, dia terpilih menjadi duta perempuan mewaikli Indonesia untuk Youth Global Forum
di Suzuka, Jepang, yang dibesut Honda Foundation. Buku Berjalan di Atas Cahaya
mendapat apresiasi Buku dan Penulis Nonfiksi Terfavorit 2013 oleh Goodreads Indonesia.
Film 99 Cahaya di Langit Eropa 1 dan 2 yang scenario fimnya ditulis olehnya dan
suami mendapatkan apresiasi dari 1,8 juta penonton versi film Indonesia.id.
Film ini juga diputar di ajang Cannes,
Bethesda Washington DC, dan Melbourne Film Festival.
Buku
Bukunya yang telah diterbitkan, yaitu Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan
Seorang Putri untuk Ayah Tercinta (2010), 99 Cahaya di Langit Eropa (2011),
Berjalan di Atas Cahaya (2013), dan Bulan Terbelah di Langit Amerika (2014).
Sehari-hari menjabat sebagai direktris PT Arah Dunia Televisi (ADiTV), TV
islami modern di Yogyakarta.
Rangga Almahendra
Rangga
Almahendra, suami Hanum Salsabiela Rais, teman perjalanan sekaligus penulis
kedua buku ini. Menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Yogyakarta,
berkuliah di Institut Teknologi Bandung,
kemudian S2 di Universitas Gadjah Mada, keduanya lulus umlaude.
Memenangi beasiswa dari Pemerintah Austria
untuk studi S3 di WU Vienna,
Rangga berkesempatan berpetualang bersama sang istri menjelajah Eropa. Rangga
mempresentasikan slah satu paper dotoralnya dalam Strategic Management
Conference di Washington DC dan Roma, yang kemudian menjadi inspirasi
kisah ini.
Pada 2010 ia menyelesaikan studinya dan
meraih gelar doktor di bidang International Business & Management.Tercatat
sebagai dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada dan Johannes
Kepler Unsiversity. Rangga sebelumnya bekerja di PT Astra Honda Motor dan ABN
AMRO Jakarta.
Kini dia menjabat sebagai Direktur Utama
ADiTV, ketua umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Yogyakarta, dan Manager of Office of International
Affairs FEB-UGM.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ringkasan Cerita
Bandara Portland, 11
September 2001
04.55
Subuh ini sama persis dengan
subuh 318 tahun lalu di Eropa. Saat orang-orang dari negeri klasik Anatolia berhimpun tenaga dan curah pikiran untuk satu
tujuan: menghalau dan mengepung orang-orang demi menaklukkan Wina pada 11
September 1683.
Lelaki berbulu tangan lebat itu
resah. Dia bolak balik melihat jam tangannya. Entah apa yang dia nantikan.
Laki-laki itu sejenak menghela napas panjang, menikmati kegundahan hatinya.
Lalu muncullah yang dia tunggu tunggu dari kerumunan orang-orang; seorang pria
tambun membawa dua helai tiket. Raut wajahnya juga menggambarkan rasa gugup.
Dengan bertumbuk pandang begitu saja mereka lalu mengangguk mantap. Biarkan
matahari sendiri saja yang gelisah hari itu. Dua pria dewasa itu tak boleh
demikian sekarang. Mereka dilarang menunjukkan bahkan sejumput kegugupan di
depan pintu check-in bandara saat ini.
Boleh jadi subuh pagi ini
menjadi pengulangan sejarah kegagalan. Boleh jadi pagi ini telah diminta
malaikat atas nama takdir, menjadi saksi atas drama kepiluan yang akan terekam
sepanjang masa…
Sekitar 350km jauhnya dari
bandara Logan, Boston…
Seorang laki laki berwajah arab
baru saja keluar dari toko perhiasan di Manhattan. Wajahnya berbinar pertanda
dia begitu bahagia. Dia menghirup udara dalam-dalam, melangkah tegap, dia
meninggalkan toko perhiasan lalu berlari kecil. Laki-laki itu telah menyiapkan
rencana cantik untuk istrinya. Pagi itu dalam perjalanan menuju kantor, dia
takkan melewatkan satu acara paling bermakna dalam perjalanan cinta bersama
istrinya. Hari itu adalah hari paling sakral dalam penyatuan cinta mereka. Hari
itu persis dua tahun mereka berjanji dalam ikatan pernikahan Islam.
Namun hari jadi pasangan itu
dikaburkan dengan kebahagiaan lain, hari-hari pertama bekerja sang suami di
‘rumah’ baru. Sebuah perusahaan investasi terkemuka yang bermarkas di lantai
70-an di salah satu menara World
Trade Center
telah menerima sang suami bekerja sebagai Junior Analyst. Laki-laki itu menatap
gedung tinggi pencakar segala cakrawala, lalu tersenyum sebentar. Dia berharap
hari ini waktu akan berjalan lebih cepat dari biasanya.
*
*
* *
Perempuan berkerudung itu
keluar dari toko kecil di seberang Fulton
Street di daerah Brooklyn.
Keranjangnya telah terisi beberapa kebutuhan bayi, serta satu paket daging,
sayur dan buah-buahan untuk pesta kecil malam ini. Dia menghampiri kasir untuk
membayar.
“Azima…nice, nice. Apa arti
Azima?” keakraban si kasir dan wanita berkerudung bernama Azima ini menjelaskan
bahwa Azima pelanggan setia toko kelontong serba ada itu.
“Aku belum tahu, nanti kucari
di Al-Qur’an”
“Ah, kalau begitu siapa nama si
kecilmu itu?”
“Ayahnya baru saja memeberi
nama untuknya, Amala. Artinya… cita-cita baru. Mungkin kota ini akan memberi harapan
baru untuk keluargaku, jadi…”
Perempuan berkerudung itu
berhenti berbicara, mereka menengok kerumunan orang-orang di luar toko.
“ada bom! ada bom! ”
orang-orang berteriak histeris.
Suara kehebohan merebak begitu
saja di udara. Hanya satu sepersekian detik padangan semua orang di edarkan ke
burung besi yang melesat secepat kilat bagai peluru.
Bangunan di ketinggian 500
meter yang dia tuju.
Darr!
Dentumannya menggelegar tak
bisa terukur.
Tak pernah terukur lagi oleh
alat pengukur apapun.
Matahari hari itu dengan berat
hati tetap menyinari bumi, wajahnya tersaput kepulan asap hitam membubung
tinggi. Tapi matahari tak ingin melukiskan keraguannya untuk bertahan menyinari
pagi memilukan itu. Tuhan telah menuliskan takdir pada penyinar bumi itu untuk
terus berjalan dengan tegap menyorotkan sinarnya, apapun yang terjadi.
Tugasnya hanya menerbitkan
sinar dengan paparan panasnya.
Saat tenggelam, dia hanya bisa
berdoa agar Tuhan memberi keajaiban pada dirinya untuk terus bertahan hingga
akhir dunia.
Saat menghilang pada hari itu,
dia membujuk bulan di langit agar terbelah sekali lagi, sebagai sebuah
keajaiban abadi.
Kali ini Hanum dan Rangga tidak
lagi menceritakan tentang kisah perjalanan mereka di Eropa, kisah petualangan
mereka kali ini berlanjut hingga ke Amerika. Gaya penulisan buku kali ini pun terasa
berbeda dengan dua buku sebelumnya (99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di
Atas Cahaya).
Petualangan mereka di awali saat
Hanum ditugaskan oleh bosnya Gertrude Robinson untuk pergi ke New York dan menulis sebuah artikel yang
mungkin bisa menyelamatkan Heute ist Wunderbar – koran tempat mereka bekerja –
dari kebangkrutan. Sebuah artikel luar biasa yang akan menceritakan tentang
tragedi 9/11. Sebuah artikel yang bertema “Would the world be better without Islam?”
Tugas yang awalnya di tolak oleh
Hanum mentah-mentah demi membela keyakinannya dari opini yang memojokkan Islam.
Namun toh akhirnya tugas ini di sanggupi juga oleh Hanum dengan keyakinan bahwa
tugas ini diberikan kepadanya bukan karena kebetulan semata. Bahwa gagasan
“Would the world be better without Islam?” ini bisa berkesempatan di jawab
TIDAK dengan dirinya sebagai penulisnya.
Bagaikan sebuah kebetulan, Rangga juga ditugaskan oleh Profesor Reinhard,
atasan di Universitas tempatnya bekerja, untuk mengikuti konferensi di
Washington DC sekaligus melobi Phillipus Brown yang akan hadir sebagai tamu
kehormatan di acara tersebut.
“Terkadang kita memang tidak
adil pada hidup kita sendiri. Tatkala tiada pilihan, kita menggerutu. Padahal
Tuhan tak memberi pilihan lain karena telah menunjukkan itulah satu-satunya
pilihan terbaik bagi hidup kita.” (p.184)
Tak disangka, perjalanan Hanum
untuk tugas liputan dari Gertrude ke Amerika mengantarkannya bertemu dengan
seorang perempuan mualaf bernama Julia Collins atau yang bernama muslim Azima
Hussein – seorang kurator yang tadinya bekerja di Museum American Natural
History yang akhirnya memilih untuk pindah dan bekerja sebagai asisten kepala
di Museum 9/11 dengan tujuan untuk mencari kenyataan tak tersingkap dari kematian
suaminya, yang tewas dalam tragedi 9/11.
Takdir juga mempertemukannya dengan Michael Jones, yang hidupnya ikut runtuh
bersama menara kembar World
Trade Center
yang telah merenggut nyawa istri tercintanya, Anna. seorang Michael Jones yang
mati-matian menentang keras pembangunan sebuah masjid di kawasan Ground Zero
(bekas tempat berdirinya menara kembar) sebagai bentuk kesetiaan terakhirnya
kepada mendiang istrinya.
Lalu, akankah Hanum berhasil menjawab pertanyaan “Would the world be better
without Islam?” dan menyatukan ‘belahan bulan’ yang terpisah dengan bantuan
Rangga?
Bagaimana hingga akhirnya kesaksian dari Phillipus Brown berhasil membuka kotak
Pandora yang selama delapan tahun ini tertutup rapat, kesaksian yang dapat
menjawab segala pertanyaan yang selama ini muncul dalam benak Azima, dan
rahasia yang akhirnya meluluhkan hati Michael Jones dari kebenciannya terhadap
Islam.
2.2 Unsur Intrinsik
- Tema :
Dunia tanpa Islam
adalah dunia tanpa kedamaian.
- Alur : Dalam
novel ini, berceritakan alur campuran. Diawali pada kejadian masa lalu, yaitu kronologi
penabrakan dua pesawat Amerika ke gedung World Trade
Center (
berceritakan alur
mundur). Kemudian berlanjut ke
perjalanan Hanum dan Rangga di Wina,
Austria hingga ke New York dan Washington
DC, Amerika Serikat (berceritakan alur
Maju)
- Latar :
1.
Tempat : Latar tempat dimulai dari Winna, Austria
kemudian berlanjut ke Amerika Serikat yang antaranya yaitu: Time Squere,
Halte bus, Harlem, Vesey Street, Sungai Hudson, Musium di Ground Zero, Memorial
Park, Masjid Mahattan, Monumen Peringatan, Stasiun Bus di Pen Station, Central
Park, New York. Kemudian berlanjut ke Kawasan
Arlingston,Washington DC
2.
Suasana : Suasana pada novel ini dimulai dari
suasana bahagia akan kesamaan penempat tugas baru Hanum dan Rangga yaitu
Amerika Serikat. Suasana menjadi menegangkan di saat pesawat yang mereka
tumpangi mengalami Turbulensi. Ketika
sampai di Amerika suasana riuh dan bersitegang karena tugas Hanum di New York belum mendapat jawaban. Suasana
berlanjut kembali menegangkan dan penuh keprihatinan ketika Hanum dan Rangga
terpisah di Monumen Peringatan akibat para demontran yang anarkis sehingga menyebabkan
sepasang suami istri ini terpisah. Suasa kembali bahagia ketika Hanum dan
Rangga bertemu kembali di Washington
DC setelah terpisah selama satu hari.
Pada akhirnya, suasana haru dan bangga tercipta dari Rangga karena kejutannya untuk Hanum yang sekaligus menyelesaikan
tugas yang membebani mereka berdua.
3. Waktu :
Latar waktu dalam novel
dimulai dari kejadian penubrukan pesawat ke WTC 11 September 2001 . Dan berlanjut
perjalanan Hanum dan Rangga yang di mulai sejak Agustus – 13 September 2009.
a. Hanum : Didalam novel ini, Hanum digambarkan
sebagai orang yang sangat toleran, sayang terhadap
suaminya, pribadi yang
gigih, wanita yang rendah diri, mudah bosan akan suatu hal, cerdik, namun
memiliki kekurangan berupa mudah
tersalut emosi, dan kurang piawai akan orientasi jalan.
b. Rangga : Didalam novel ini, Rangga digambarkan
sebagai suami Hanum yang selalu memiliki kejutan untuk
istrinya, seorang
suami yang penyayang, perhatian, dan sabar. Rangga
juga seorang yang pantang menyerah, cerdas, religius,
memiliki rasa percaya diri, dan usil
c.
Fatma Pasha : Didalam
novel ini, hanya sedikit menyinggung Fatma Pasha yang tergambarkan dengan seorang
wanita yang sulit
mencari pekerjaan karena ia berhijab, seorang wanita
yang perduli dan baik terhadap saudara seimannya
yaitu Hanum.
d.
Richard Lugner : Dinovel
ini, Richard tergambar sebagai seorang pria tua kaya
raya, yang dermawan. Namun memiliki sifat yang buruk,
yaitu suka gonta ganti pasangan.
e. Getrund
Robinson : Didalam novel ini, Getrund tergambar
sebagai orang yang baik, gigih, tetap pendirian,
penyayang, serta berkemauan
keras. Getrund merupakan atasan Hanum bekerhja
di sebuah perusahaan surat
kabar.
f.
Stefan Rudolfski : Didalam
novel ini, Stefan tergambar sebagai teman dari Rangga di winna. Dia adalah orang yang berkeinginta- huan
kuat, kritis, usil, dan baik.
g.
Muhammad Khan: Tergambar sebagai salah satu teman
Rangga. Dia adalah oang yang baik, sabar dalam menghadapi
setiap pertanyaan
dan ocehan Stefan, serta seorang yang kritis.
h.
Markus Reihand : Didalam
novel ini, Reihand tergambar sebagai Dosen sekaligu Kurator Beasiswa Rangga. Dia
adalah seorang yang
baik, dan ingin dikenal orang-orang besar.
i.
Andy Cooper : Tergambar
sebagai presenter papan atas. Ia merupakan presenter idola Hanum. Dia adalah seorang
yang pintar, keren,
dan berpenampilan unik serta memukau setiap kali dia menjadi pembawa acara di acara
besar.
j.
Azima Hussein : Didalam
novel ini, Azima yang memiliki nama lain Julia Collin. Ia adalah seoarng mualaf yang
terpaksa melepas- kan hijabnya setelah
peristiwa WTC. Ia berwatak baik, memiliki
rasa penasaran yang tinggi, terutama tentang apa
maksud perkataan suaminya sebelum tragedi yang menimpan
suaminya, Penyayang,dan pintar.
k.
Hyacint Collinsworth: Didalam novel ini, Nyonya Collin
merupakan orang tua dari Azima yang menderita penyakit
Alzhemair. Pada dasarnya,
ia adalah seorang ibu yang penyayang, baik. Namun,
setelah terserang penyakit itu dan mengetahui anaknya
berpindah keyakinan, ia menjadi seorang yang temperamental,
dan mudah menangis.
l.
Michael Jones : Didalam
novel ini, Jones tergambar sebagai seorang suami yang sangat menyayangi istrinya
yaitu Anna, yang merupakan salah satu korban WTC. Ia adalah
seorang yang
baik, namun karena kejadian WTC disinyalir dilakukan
oleh seorang beragama Islam, dia menjadi benci
terhadap Islam. Dan menjadi salah satu demonstran yang tak ingin diadakan
pembangunan masjid di dekat WTC. Namun setelah mengetahui yang
sebenarnya, dia mengubah
cara berpikirnya tentang islam.
m. Amala
Hussein : Didalam novel ini, Amala atau dengan nama
lain Sarah merupakan anak tunggal Azima dengan
suaminya Abe. Ia adala
seorang anak kecil yang baik, mudah bergaul, dan ramah.
n.
Abraham Hussein : Didalam
novel ini, Abe atau Abraham merupakan almarhum suami dari Azima. Ia merupakan
korban WTC. Ia
digambarkan sebagai suami yang sayang dengan istrinya,
baik, taat beragama, tidak mudah menyerah, suka menolong.
o.
Anna Jones : Didalam
novel ini, Anna merupakan istri dari Jones. Ia merupakan atasan tempat Abe bekerja. Ia
adalah wanita yang
sayang terhadap Jones, baik, namun dia adalah seoarang
yang mudah putus asa dan mudah menyerah dengan
keadaan.
p.
Philipus Brown : Didalam
novel ini, Brown mengalami perbahan perwatakan. Pada mulanya, ia adalah
seorang yang gila harta,
dan sombong. Namun setalah kejadian WTC yang dialaminya,
dan dia menjadi salah satu korban yang selamat
berkat bantuan Abe, dia menyadari bahwa dari hal
itu, ada maksud lain dari Tuhan mengapa dia selamat dari
kejadian itu. Kemudian ia menjadi seorang yang dermawan, baik, tidak sombong, cerdas, dan
lebih menghargai
kehidupannya serta perduli terhadap sesama.
- Sudut pandang : Penulis sebagai orang pertama.
Terbukti dengan penggunaan kata “ Aku” .
- Gaya
bahasa : Gaya bahasa yang semakin lugas dan indah
mengalir di novel ini dibanding novel sebelumnya. Gaya bahasa yang digunakan pun tidak sulit dimengerti, karena
dikemas dengan bahasa novel pada umumnya, Bahkan cenderung memakai gaya novel roman.
- Amanat :
a. Rasa
saling toleran sesama umat beragama perlu ditanamkan pada setiap manusia
b. Tidak
boleh berburuk sangka terhadap orang lain. Dan menganggap
orang lain kemah
c. Jangan salahkan kepercayaa
seseorang terhadap perlakuan atau perilaku orang tersebut. Karena yang
sesungguhny bersalah adalah pribadi orang tersebut. Bukan kesalahan kepercayaan
yang dianutnya
d, Menghindari diri dari sikap
diskriminasi.
e. Menanamkan suatu keyakinan pada diri
sendiri. Bahwa kita bisa melakukan sesuatu dengan bersungguh sungguh dan selalu
mengharap ridha dari-Nya.
f.
Tidak ada sesuatu yang kebetulan.
Tuhan memperlihatkan cara kerja-Nya yang luar biasa. Bahwa segala sesuatu yang
telah terjadi adala takdir yang indah dari Tuhan.
2.3 Unsur Ekstrinsik
Dalam novel ini, tersirat nilai-nilai
moral antara lain
- Sikap dan tindakan seorang anak yang ingin selalu
membahagiakan orang tuanya. Tergambar ketika Getrund ingin mematuhi setiap
perintah Ibunya dan mengabulkan semua keinginan Ibunya di akhir hayatnya.
- Rasa
tanggungjawab terhadap tugas yang telah diberikan.
Ditinjau dari nilai sosialnya, novel ini
begitu kaya akan nilai sosial . Hal ini dibuktikan dengan para tokoh saling
tolong menolong walaupun belum saling kenal satu dengan yang lain. Dan nilai
sosial lainnya antara lain:
-
Sikap Philipus Brown yang suka menyedekahkan hartanya kepada
sesama manusia lain yang sangat membutuhkan.
- Membantu teman dalam susah. Ketika Getrund memiliki masalah
dengan perkataan ibunya sekaligus
masalah yang akan menimpa surat kabar tempat dia dan Hanum bekerja, Hanum
membantu Getrund menyelesaikannya dengan memberi saran kepada Getrund tentang
pernyataan ibunya yang ingin meninggal secara damai serta Hanum menerima beban
berat untuk menyelamatkan surat kabar tersebut dengan membuat artikel yang bisa
jadi memojokkan keyakinannya
Dalam novel ini, terkandung nilai budaya
antara lain:
- Sapaan setiap kali bertemu dengan orang lain. Hal ini
tergambar ketika Hanum selalu mengucapkan sapaannya kepada Getrund ketika
berjumpa dengannya
Nilai agama pada novel ini juga tergambar
secara jelas.
- Dalam setiap pekerjaan, selalu berserah diri
kepada-Nya
- Saling
toleran antar sesame umat beragama
- Percaya
dan yakin bahwasannya semua yang terjadi kepada manusia adalah kehendak Sang Maha Pencipta dan merupakan yang
terbaik bagi umat-Nya.
- Keteguhan
hati akan kepercayaan yang telah dipilih.
2.4 Kelebihan Buku
- Novel
yang satu ini bisa dikatakan novel religious kontemporer bertemakan
sejarah Islam, seperti novel best seller Hanum Salsabiela Rais &
Rangga Almahendra yang sebelumnya mengangkat tema sejenis yaitu 99 Cahaya
di Langit Eropa.
- Secara
umum, sang penulis ingin menceritakan bahwa dunia tidak akan lebih baik
tanpa Islam. Penulis mencoba mengutarakan itu semua lewat novel ini. Bahwa
Islam itu memang diperlukan dan dunia tidak akan lebih baik tanpa Islam.
“Dunia Tanpa Islam adalah
dunia tanpa kedamaian.”
“Islam tanpa amalan adalah
kehampaan.”
“Amalan tanpa iman adalah
kegelapan.”
- Cerita
dibuka dengan kejadian pembajakan pesawat Colgan Air yang menabrak menara
kembar WTC atau yang biasa dikenal dengan peristiwa 9/11. Kemudian alur
cerita maju ke delapan tahun kemudian. Ketika Hanum akhirnya ditugaskan
untuk menulis artikel dengan tema “Would
the world be better without Islam?”. Berkenaan dengan
peringatan 1 windu tragedi 9/11. Pada mulanya, Hanum menolak untuk meliput
artikel tersebut, namun akhirnya setuju untuk membuktikan bahwa dunia
tidak akan lebih baik tanpa Islam. Dan secara kebetulan diwaktu yang
bersamaan Rangga harus menghadiri konferensi bisnis di Amerika.Akhirnya
dimulailah petualangan sepasang suami istri ini di negeri paman sam. Untuk
menjawab itu semua.
- Gaya penulisan buku kali ini sedikit
berbeda dari buku sebelumnya, dimana penulis menggunakan peralihan
karakter yang saling mengisi satu sama lain dengan alur yang bergerak
maju. Sehingga buku ini terasa ringan untuk dibaca.
- Selain
itu, menepis pola pikir kita bahwa muslim identik dengan seorang teroris.
Karena dalam novel ini memberikan perspektif bagaimana muslim tidaklah
pantas diidentikkan dengan teroris, karena itu adalah tragedi kemanusiaan,
ulah segelintir orang yang menggunakan nama Islam.
- Novel
ini adalah cerita fiksi. Jadi ketika alurnya seakan terlihat terlalu
dramatis dan too miraculous to
be real. Memang karena cerita ini bukan sepenuhnya kisah nyata. Justru
di situlah apresiasi saya kepada penulis karena mampu merangkai kisah demi
kisah yang bertebaran menjadi satu bingkai cerita yang sarat hikmah.
- Novel
ini disertakan dengan peta daerah di Amerika Serikat yang di kunjungi
pasangan suami-isti ini. Dengan begitu, para pembaca dibantu untuk lebih
mengerti dan memahami lokasi setiap kejadian yang tertuang dalam novel
ini.
- Terdiri
atas sub judul. Sehingga setiap rangkaian kejadian cerita lebih spesifik.
2.5 Kekurangan Buku
- Setting
waktu dari novel ini masih sama seperti buku 99 Cahaya di Langi eropa, ketika Hanum dan Rangga bermukim di Austria.
Saat itu, Hanum yang akhirnya bekerja menjadi reporter di suatu
harian di Wina bernama Heute
ist Wunderbar (Today is Wonderful), mendapat tugas berat
dengan topik, “Would the
world be better without Islam?” . Misi itu
mengharuskannya pergi ke Amerika untuk menggali lebih lanjut keadaan
disana pasca tragedi WTC. Di saat yang sama, Rangga juga mendapat
tugas untuk hadir dalam acara konferensi di negara
adidaya itu oleh supervisornya. Ditambah lagi sebuah tugas sampingan
untuk mengejar Philipus Brown, miliuner asal AS yang “nyentrik” supaya
bersedia menjadi visiting lecturer di kampusnya.
- Beberapa
aspek keterkaitan Islam dalam sejarah Amerika juga disinggung dalam
buku ini. Tentang para Moriscos dari
Spanyol, Thomas Jefferson, sampai simbol-simbol Islam yang ternyata ada dalam
beberapa institusi pemerintahan dan pendidikan di Amerika. Mungkin bisa
dibilang kurang, karena terkesan sebagai cerita pelengkap dan hanya
sepotong-sepotong. Fokus utamanya memang lebih pada cerita dibalik tragedi
kemanusian 9/11 itu.
- Buku
ini tidak terlalu apik menceritakan bahwa ternyata simbol-simbol dan ruh
Islam terpampang jelas di Supreme Court alias Mahkamah Agung Amerika,
gerbang Harvard Law School, Declaration of Independence alias Proklamasi
Kemerdekaan Amerika, museum Thomas Jefferson, Abraham Lincoln yang
ternyata keturunan Melungeon, dan adanya teori bahwa Christophorus Columbus maupun
Amerigo Vespucci bukanlah orang pertama yang menemukan Amerika, melainkan
pelaut muslim. Mungkin karena hal-hal ini tidak mereka peroleh berdasarkan
pengalaman nyata menyaksikannya seperti pada 99 Cahaya di Langit Eropa,
melainkan dari informasi yang telah mereka riset.
- Tidak
serta merta buku ini bisa diterima oleh pembaca yang memiliki keyakinan
berbeda. Karena perspektif yang digunakan sangat Islami, mengingat penulis
(Hanum-Rangga) juga merupakan seorang muslim. Namun bagi mereka yang mau
berpikir terbuka, buku ini mampu menambah ruang kebijaksanaannya dalam
memahami sesuatu.
- Menggunakan
bahasa asing. Sebagian pembaca lain mungkin tidak paham arti bahasa itu.
Sehingga mempersulit pembaca memaknai bacaan tersebut.
- Terdapat
bahasa yang jarang didengar oleh sebagian pembaca, antara lain : tenggat,
demensia, ergonomis, melankolis, surel, filantropi, dan sebagainya. Hal
ini mengakibatkan kurang pemahaman pembaca terhadap bacaan tersebut.
2.6 Penggunaan Bahasa
Gaya bercerita buku ini berbeda sekali dengan
buku-buku Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra sebelumnya. Tidak seperti
99 Cahaya di
Langit Eropa dan Berjalan di
Atas Cahaya yang non-fiksi, buku ini tidak hanya mengisahkan
pengalaman traveling dan
pertemuan dengan tokoh-tokoh yang menginspirasi untuk menjadi agen muslim yang
baik, tetapi juga ditambah kisah-kisah yang diinspirasi dari media, online news, dan Youtube.
Buku ini juga dibangun dari hasil sharing
pengalaman dengan para mualaf dan sumber yang kredibel selama
mereka menjadi wartawan (Hanum) dan mahasiswa (Rangga) di Wina. Tentu saja
seperti dua buku bergenre traveling yang
mereka tulis sebelumnya, semua fakta sejarah, sains, bangunan bersejarah, dan
peristiwa buku ini diadaptasi dari data sebenarnya. Hasilnya, perpaduan yang
ciamik banget antara fiksi dan non-fiksinya untuk buku bergenre traveling :)
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika
ini begitu bagus karena menyuguhkan kisah perjalanan pasangan suami-istri di
negara Adidaya “Amerika Serikat” yang di kolaborasikan dengan penelitian, dan
cerita fiksi. Disamping itu, dalam novel ini disuguhkan beberapa nilai religi
atau agama yang begitu menyentuh batin pembaca, nilai moral , nilai sosial, dan
nilai budaya yang dapat kita ambil hikmahnya.
Dalam novel ini, tertulis pula kisah dan
pendapat tentang kejadian tragedi 11 november 2001 di menara kembar World Trade
Center yang mengakibatkan kekisruhan antara Amerika dengan Islam, Kaitan Islam
dengan negara Adidaya seperti: patung Muhammad dalam pengadilan tinggi di
Amerika Serikat, dan ayat al-Quran di Harvard, kisah Colombus dalam menemukan
Benua Amerika, kisah suku asli Amerika (bangsa mugleon),dan riset tentang
terdapat seperti bekas guratan sepanjang diameter bulan (bukan pernah terbelah
dan disatukan kembali) . Walaupun pada akhirnya penulis menyatakan bahwa
semuanya masih bersifat “debatable”.
Karena masih bisa diperdebatkan itulah
Hanum dan Rangga justru berani mengangkatnya menjadi sebuah novel, sehingga
pembaca mendapatkan keseimbangan informasi, serta mengasah cara berpikit yang
tidak linier atau out of the box. Sebuah novel yang menginspirasi, mengajak
pembaca membuat pola piker dan berimajinasi tinggi, serta mengambil hikmah dari
ini semua.
3.2. Saran
Bagi pembaca dari segala usia dan agama
terutama Islam yang suka membaca novel, novel Bulan Terbelah di Langit Amerika
ini menjadi salah satu novel yang layak untuk di rekomendasikan bagi para
pencinta novel.Isinya yang memadukan penelitian,kisah nyata dan fiksi akan
memberikan nuansa tersendiri bagi para pembacanya.