Sabtu, 03 Juli 2021

REVIEW BIO OIL : Beneran ampuh atasi masalah kulit ?

 BIO OIL

Produk Spesialis untuk Perawatan bekas luka dan peregangan kulit.

 


Bio oil merupakan salah satu produk perawatan kulit yang mengklaim dapat menyamarkan bekas luka, stretch marks, bahkan jerawat. Bener gak sih?

Sejak tahun 2014 (sudah 7 tahun), saya sudah menggunakan produk ajaib ini. Berawal dari kecelakaan motor yang saya alami di tahun 2014. Sebagai Wanita yang dituntut punya kulit mulus semulus bihun … hihihi.. Jadi saya memutuskan untuk menggunakan Bio Oil pada bekas luka saya. Sampai sekarang, saya masih menggunakannya dan sudah menghabiskan 4 botol berukuran 200 ml, secinta itu sama Bio Oil.

 

Manfaat Bio Oil yang saya rasakan selama 7 tahun ini

1.     Melembabkan kulit

Pada cuaca yang panas dan extrem, kadang kondisi kulit menjadi kering dan mengelupas. Saya selalu menggunakan Bio Oil untuk mengatasinya.

2.     Stretch Marks

Pada masa kuliah, saya mengalami kenaikan BB akibat stress Skripsi…hihihi, alhasil terdapat beberapa stretch marks di paha. Langsung deh saya oleskan rutin di pagi hari setelah mandi, dan di malam hari sebelum tidur. Lumayan menyamarkan, tapi butuh waktu yang cukup lama.

3.     Menyamarkan bekas luka dan kulit belang

Bekas luka baru lebih cepat pudar/tersamarkan dibanding bekas luka yang lama. Jadi, sesegera mungkin oleskan Bio Oil pada bekas luka ya sis… kurun waktu 1-2 bulan, untuk bekas luka baru bisa tersamarkan. Sedangkan untuk bekas luka lama, lebih membutuhkan waktu yang lebih lama juga untuk menyamarkannya. Yang penting konsisten pakai Bio Oil ya sis…

4.     Jerawat

Base on my case, saya memiliki tipe kombinasi (kering/normal). Terkadang jerawat muncul pada saat saya lupa double cleansing dan pada saat menstruasi. Sebelum jerawat membesar dan akut, sebelum tidur, saya mengoleskan bio oil pada area jerawat. Keesokan pagi jerawat mengecil bahkan ada yang langsung hilang. Ajaib….

 

Selain itu, Kelebihan Bio Oil selain manfaat diatas adalah:

1.     Teksturnya setelah di aplikasikan memang sedikit berminyak. Namun tidak lengket dan lumayan cepat menyerap

2.     Harga lumayan affotdable. Harga bisa di sesuaikan dengan kebutuhan. Karena bio Oil terdiri dari berbagai ukuran dari 25 ml, 60 ml, 125 ml, dan 200 ml. Jadi buat yang mau coba bisa belu yang ukuran 25 ml dulu.

3.     Aroma bunga lembut (tidak menyengat)

4.     Tidak menyebabkan iritasi dan alergi pada kulit

5.     Dalam penggunaannya bisa di barengi dengan menggunakan skin care lain. Saat digunakan bersamaan dengan skincare lain, tidak menimbulkan efek yang berbahaya (seperti kemerahan atau jerawat)

Adapun kekurangannya:

1.     Untuk menghilangkan Stretch Marks butuh waktu yang lama, jadi harus konsisten, sabar dan rajib mengolesi Bio Oil pada stretch marks.

Semangat Sis….👍



Cara pakai:

Bekas Luka ( Scars )

Oleskan Bio-Oil pada bekas luka dua kali sehari, pijat lembut menggunakan ujung jari dengan gerakan melingkar sampai benar-benar terserap. Gunakan minimal selama 3 bulan. Jangan digunakan pada kulit yang luka.

Peregangan kulit (Stretch Marks )

Pijat Bio-Oil dua kali sehari pada daerah yang paling rentan terhadap stretch marks. Selama kehamilan, pijat Bio-Oil pada bagian perut, pinggul, payudara, punggung bawah, dan paha atas dua kali sehari dari awal trisemester kedua. Untuk membantu menyamarkan stretch marks yang ada, oleskan Bio-Oil dua kali sehari, pijat menggunakan ujung jari dengan gerakan melingkar sampai bener-benar terserap.

Warna kulit yang tidak merata Oleskan Bio-Oil dua kali sehari, pijat lembut menggunakan ujung jari dengan gerakan melingkar sampai benar-benar terserap.

Penuaan kulit

Oleskan Bio-Oil dua kali sehari, pijat lembut menggunakan ujung jari dengan gerakan melingkar sampai benar-benar terserap.

Kulit Kering

Oleskan Bio-Oil setelah berendam , mandi, berjemur, atau berenang. Pijat lembut pada kulit, berikan perhatian khusus untuk daerah yang kering. Bio-Oil juga ideal digunakan sebagai Bath oil.

Minggu, 13 Desember 2015

resensi novel bulan terbelah di langit Amerika



RESENSI NOVEL
BULAN TERBELAH DI LANGIT AMERIKA

UNTUK MELENGKAPI TUGAS
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

image



OLEH
MONICA YULIANTI
KELAS XII IPA-I

SMA NEGERI 1 KUALA
TAHUN PELAJARAN 2014/2015






KATA PENGANTAR



Puji syukur saya ucapkn kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahka rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan resensi novel yang berjudul “Penyatuan Bulan di Langit Amerika”. Resensi ini saya buat untuk melengkapi tugas bahasa Indonesia.

Saya mendapat adanya kesulitan dalam menyelesaikan resensi ini. Berkat bantuan Ibu Guru Bahasa Indonesia, teman, dan orang tua, saya dapat menyelesaikan resensi novel tepat pada waktunya. Saya mengucapkan terimakasih kepada Ibu Guru Bahasa Indonesia, teman, dan orang tua atas bantuannya menyelesaiakan makalah ini.

Saya menyadari bahwa resensi novel ini masih memunyai kekurangan. Saya berharap kritik dan saran untuk memperbaiki resensi ini. Semoga resensi novel ini berguna bagi pembaca.

Kuala, 12 Februari 2015
Penulis,




Monica Yulianti


BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Resensi merupakan pembicaraan atau pertimbangan suatu buku. Selain itu, resensi ini juga dapat diartikan sebagai perihal untuk menilai sebuah buku tetang baik dan buruknya buku atau novel tersebut, baik dari segi sifat luar maupun sifat dalam.
Novel adalah karangan prosa panjang yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dan orang-orang sekelilingnya. Novel popular adalah novel yang menampilkan masalah-masalah yang aktual dan menzaman.
Resensi ini bertujuan memberikan pertimbangan kepada calon pembaca mengenai suatu novel dengan cara memberikan sejumlah informasi mengenai kelebihan dan kekurangan novel tersebut. Sehingga pembaca dapat mempertimbangkan apakah novel tersebut cocok atau tidak untuk dibaca sesuai dengan keinginan pembaca.
Seperti halnya dalam novel “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Novel ini menceritakan tentang keterkaitan negara adidaya Amerika Serikat dengan Islam.

KETERKAITAN ISLAM DENGAN AMERIKA”
1.2       Identitas Buku
Judul Buku                  : Bulan Terbelah di Langit Amerika
Pengarang                  : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit               : 2014
Edisi                             : Keempat (IV)
Tebal                           : 344 hlm
Harga                          : Rp75.000


1.3       Kepengarangan
Hasil gambar untuk hanum salsabiela raisHanum Salsabiela Rais
Hanum Salsabiela Rais adalah putri kedua Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karier menjadi jurnalis dan presenter di Trans TV.
Tinggal di Austria selama 3,5 tahun bersama sang suami. Mengenyam pengalaman sebagai jurnalis dan video podcast film marker di Executive Academy Vienna, dan sebagai koresponden untuk detik dot com selama 3 tahun.
Tahun 2013, dia terpilih menjadi duta perempuan mewaikli Indonesia untuk Youth Global Forum di Suzuka, Jepang, yang dibesut Honda Foundation. Buku Berjalan di Atas Cahaya mendapat apresiasi Buku dan Penulis Nonfiksi Terfavorit 2013 oleh Goodreads Indonesia. Film 99 Cahaya di Langit Eropa 1 dan 2 yang scenario fimnya ditulis olehnya dan suami mendapatkan apresiasi dari 1,8 juta penonton versi film Indonesia.id. Film ini juga diputar di ajang Cannes, Bethesda Washington DC, dan Melbourne Film Festival.
Buku Bukunya yang telah diterbitkan, yaitu Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta (2010), 99 Cahaya di Langit Eropa (2011), Berjalan di Atas Cahaya (2013), dan Bulan Terbelah di Langit Amerika (2014). Sehari-hari menjabat sebagai direktris PT Arah Dunia Televisi (ADiTV), TV islami modern di Yogyakarta.
Rangga Almahendra
Rangga Almahendra, suami Hanum Salsabiela Rais, teman perjalanan sekaligus penulis kedua buku ini. Menamatkan pendidikan dasar hingga menengah di Yogyakarta, berkuliah di Institut Teknologi Bandung, kemudian S2 di Universitas Gadjah Mada, keduanya          lulus    umlaude.

Memenangi beasiswa dari Pemerintah Austria untuk studi S3 di WU Vienna, Rangga berkesempatan berpetualang bersama sang istri menjelajah Eropa. Rangga mempresentasikan slah satu paper dotoralnya dalam Strategic Management Conference di Washington DC dan Roma, yang kemudian menjadi inspirasi kisah ini.

Pada 2010 ia menyelesaikan studinya dan meraih gelar doktor di bidang International Business & Management.Tercatat sebagai dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada dan Johannes Kepler Unsiversity. Rangga sebelumnya bekerja di PT Astra Honda Motor dan ABN AMRO Jakarta.
Kini dia menjabat sebagai Direktur Utama ADiTV, ketua umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) Yogyakarta, dan Manager of Office of International Affairs FEB-UGM.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1   Ringkasan Cerita
image
Bandara Portland, 11 September 2001
04.55

Subuh ini sama persis dengan subuh 318 tahun lalu di Eropa. Saat orang-orang dari negeri klasik Anatolia berhimpun tenaga dan curah pikiran untuk satu tujuan: menghalau dan mengepung orang-orang demi menaklukkan Wina pada 11 September 1683.

Lelaki berbulu tangan lebat itu resah. Dia bolak balik melihat jam tangannya. Entah apa yang dia nantikan. Laki-laki itu sejenak menghela napas panjang, menikmati kegundahan hatinya. Lalu muncullah yang dia tunggu tunggu dari kerumunan orang-orang; seorang pria tambun membawa dua helai tiket. Raut wajahnya juga menggambarkan rasa gugup. Dengan bertumbuk pandang begitu saja mereka lalu mengangguk mantap. Biarkan matahari sendiri saja yang gelisah hari itu. Dua pria dewasa itu tak boleh demikian sekarang. Mereka dilarang menunjukkan bahkan sejumput kegugupan di depan pintu check-in bandara saat ini.

Boleh jadi subuh pagi ini menjadi pengulangan sejarah kegagalan. Boleh jadi pagi ini telah diminta malaikat atas nama takdir, menjadi saksi atas drama kepiluan yang akan terekam sepanjang masa…

Sekitar 350km jauhnya dari bandara Logan, Boston…

Seorang laki laki berwajah arab baru saja keluar dari toko perhiasan di Manhattan. Wajahnya berbinar pertanda dia begitu bahagia. Dia menghirup udara dalam-dalam, melangkah tegap, dia meninggalkan toko perhiasan lalu berlari kecil. Laki-laki itu telah menyiapkan rencana cantik untuk istrinya. Pagi itu dalam perjalanan menuju kantor, dia takkan melewatkan satu acara paling bermakna dalam perjalanan cinta bersama istrinya. Hari itu adalah hari paling sakral dalam penyatuan cinta mereka. Hari itu persis dua tahun mereka berjanji dalam ikatan pernikahan Islam.

Namun hari jadi pasangan itu dikaburkan dengan kebahagiaan lain, hari-hari pertama bekerja sang suami di ‘rumah’ baru. Sebuah perusahaan investasi terkemuka yang bermarkas di lantai 70-an di salah satu menara World Trade Center telah menerima sang suami bekerja sebagai Junior Analyst. Laki-laki itu menatap gedung tinggi pencakar segala cakrawala, lalu tersenyum sebentar. Dia berharap hari ini waktu akan berjalan lebih cepat dari biasanya.

*          *          *          *
Perempuan berkerudung itu keluar dari toko kecil di seberang Fulton Street di daerah Brooklyn. Keranjangnya telah terisi beberapa kebutuhan bayi, serta satu paket daging, sayur dan buah-buahan untuk pesta kecil malam ini. Dia menghampiri kasir untuk membayar.
“Azima…nice, nice. Apa arti Azima?” keakraban si kasir dan wanita berkerudung bernama Azima ini menjelaskan bahwa Azima pelanggan setia toko kelontong serba ada itu.
“Aku belum tahu, nanti kucari di Al-Qur’an”
“Ah, kalau begitu siapa nama si kecilmu itu?”
“Ayahnya baru saja memeberi nama untuknya, Amala. Artinya… cita-cita baru. Mungkin kota ini akan memberi harapan baru untuk keluargaku, jadi…”

Perempuan berkerudung itu berhenti berbicara, mereka menengok kerumunan orang-orang di luar toko.
“ada bom! ada bom! ” orang-orang berteriak histeris.
Suara kehebohan merebak begitu saja di udara. Hanya satu sepersekian detik padangan semua orang di edarkan ke burung besi yang melesat secepat kilat bagai peluru.
Bangunan di ketinggian 500 meter yang dia tuju.
Darr!
Dentumannya menggelegar tak bisa terukur.
Tak pernah terukur lagi oleh alat pengukur apapun.

Matahari hari itu dengan berat hati tetap menyinari bumi, wajahnya tersaput kepulan asap hitam membubung tinggi. Tapi matahari tak ingin melukiskan keraguannya untuk bertahan menyinari pagi memilukan itu. Tuhan telah menuliskan takdir pada penyinar bumi itu untuk terus berjalan dengan tegap menyorotkan sinarnya, apapun yang terjadi.

Tugasnya hanya menerbitkan sinar dengan paparan panasnya.

Saat tenggelam, dia hanya bisa berdoa agar Tuhan memberi keajaiban pada dirinya untuk terus bertahan hingga akhir dunia.

Saat menghilang pada hari itu, dia membujuk bulan di langit agar terbelah sekali lagi, sebagai sebuah keajaiban abadi.

Kali ini Hanum dan Rangga tidak lagi menceritakan tentang kisah perjalanan mereka di Eropa, kisah petualangan mereka kali ini berlanjut hingga ke Amerika. Gaya penulisan buku kali ini pun terasa berbeda dengan dua buku sebelumnya (99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya).
Petualangan mereka di awali saat Hanum ditugaskan oleh bosnya Gertrude Robinson untuk pergi ke New York dan menulis sebuah artikel yang mungkin bisa menyelamatkan Heute ist Wunderbar – koran tempat mereka bekerja – dari kebangkrutan. Sebuah artikel luar biasa yang akan menceritakan tentang tragedi 9/11. Sebuah artikel yang bertema “Would the world be better without Islam?”
Tugas yang awalnya di tolak oleh Hanum mentah-mentah demi membela keyakinannya dari opini yang memojokkan Islam. Namun toh akhirnya tugas ini di sanggupi juga oleh Hanum dengan keyakinan bahwa tugas ini diberikan kepadanya bukan karena kebetulan semata. Bahwa gagasan “Would the world be better without Islam?” ini bisa berkesempatan di jawab TIDAK dengan dirinya sebagai penulisnya.
Bagaikan sebuah kebetulan, Rangga juga ditugaskan oleh Profesor Reinhard, atasan di Universitas tempatnya bekerja, untuk mengikuti konferensi di Washington DC sekaligus melobi Phillipus Brown yang akan hadir sebagai tamu kehormatan di acara tersebut.

“Terkadang kita memang tidak adil pada hidup kita sendiri. Tatkala tiada pilihan, kita menggerutu. Padahal Tuhan tak memberi pilihan lain karena telah menunjukkan itulah satu-satunya pilihan terbaik bagi hidup kita.” (p.184)
Tak disangka, perjalanan Hanum untuk tugas liputan dari Gertrude ke Amerika mengantarkannya bertemu dengan seorang perempuan mualaf bernama Julia Collins atau yang bernama muslim Azima Hussein – seorang kurator yang tadinya bekerja di Museum American Natural History yang akhirnya memilih untuk pindah dan bekerja sebagai asisten kepala di Museum 9/11 dengan tujuan untuk mencari kenyataan tak tersingkap dari kematian suaminya, yang tewas dalam tragedi 9/11.

Takdir juga mempertemukannya dengan Michael Jones, yang hidupnya ikut runtuh bersama menara kembar World Trade Center yang telah merenggut nyawa istri tercintanya, Anna. seorang Michael Jones yang mati-matian menentang keras pembangunan sebuah masjid di kawasan Ground Zero (bekas tempat berdirinya menara kembar) sebagai bentuk kesetiaan terakhirnya kepada mendiang istrinya.

Lalu, akankah Hanum berhasil menjawab pertanyaan “Would the world be better without Islam?” dan menyatukan ‘belahan bulan’ yang terpisah dengan bantuan Rangga?

Bagaimana hingga akhirnya kesaksian dari Phillipus Brown berhasil membuka kotak Pandora yang selama delapan tahun ini tertutup rapat, kesaksian yang dapat menjawab segala pertanyaan yang selama ini muncul dalam benak Azima, dan rahasia yang akhirnya meluluhkan hati Michael Jones dari kebenciannya terhadap Islam.


2.2   Unsur Intrinsik
  • Tema           : Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian.
  • Alur             : Dalam novel ini, berceritakan alur campuran. Diawali pada                                 kejadian masa lalu, yaitu kronologi penabrakan dua pesawat                                    Amerika ke gedung World Trade Center ( berceritakan alur                                mundur). Kemudian berlanjut ke perjalanan Hanum dan                                            Rangga di Wina, Austria hingga ke New York dan Washington                            DC, Amerika Serikat (berceritakan alur Maju)
  • Latar           :
1. Tempat    : Latar tempat dimulai dari Winna, Austria kemudian  berlanjut  ke Amerika Serikat yang antaranya yaitu: Time Squere, Halte bus, Harlem, Vesey Street, Sungai Hudson, Musium di Ground Zero, Memorial Park, Masjid Mahattan, Monumen Peringatan, Stasiun Bus di Pen Station, Central Park, New York. Kemudian berlanjut ke Kawasan Arlingston,Washington DC
2. Suasana   : Suasana pada novel ini dimulai dari suasana bahagia akan kesamaan penempat tugas baru Hanum dan Rangga yaitu Amerika Serikat. Suasana menjadi menegangkan di saat pesawat yang mereka tumpangi  mengalami Turbulensi. Ketika sampai di Amerika suasana riuh dan bersitegang karena  tugas Hanum di New York belum mendapat jawaban. Suasana berlanjut kembali menegangkan dan penuh keprihatinan ketika Hanum dan Rangga terpisah di Monumen Peringatan akibat para demontran yang anarkis sehingga menyebabkan sepasang suami istri ini terpisah. Suasa kembali bahagia ketika Hanum dan Rangga bertemu kembali di Washington DC setelah terpisah selama satu hari. Pada akhirnya, suasana haru dan bangga tercipta dari Rangga karena kejutannya  untuk Hanum yang sekaligus menyelesaikan tugas yang  membebani mereka berdua.
3. Waktu    : Latar waktu dalam novel dimulai dari kejadian penubrukan pesawat ke WTC 11 September 2001 . Dan berlanjut perjalanan Hanum dan Rangga yang di mulai sejak Agustus – 13 September 2009.
  • Penokohan   :
a.       Hanum             : Didalam novel ini, Hanum digambarkan sebagai orang                                 yang sangat toleran, sayang terhadap suaminya, pribadi                                       yang gigih, wanita yang rendah diri, mudah bosan akan                                         suatu hal, cerdik, namun memiliki kekurangan berupa                                             mudah tersalut emosi, dan kurang piawai akan orientasi                                        jalan.
b.       Rangga             : Didalam novel ini, Rangga digambarkan sebagai suami                                 Hanum yang selalu memiliki kejutan untuk istrinya,                                              seorang suami yang penyayang, perhatian, dan sabar.                                      Rangga juga seorang yang pantang menyerah, cerdas,                                                religius, memiliki rasa percaya diri, dan usil
c.    Fatma Pasha     : Didalam novel ini, hanya sedikit menyinggung Fatma                                    Pasha yang tergambarkan dengan seorang wanita yang                                        sulit mencari pekerjaan karena ia berhijab, seorang                                        wanita yang perduli dan baik terhadap saudara                                                     seimannya yaitu Hanum.
d.    Richard Lugner : Dinovel ini, Richard tergambar sebagai seorang pria tua                                kaya raya, yang dermawan. Namun memiliki sifat yang                                        buruk, yaitu suka gonta ganti pasangan.
e.       Getrund Robinson      : Didalam novel ini, Getrund tergambar sebagai orang                                     yang baik, gigih, tetap pendirian, penyayang, serta                                                 berkemauan keras. Getrund merupakan atasan Hanum                                            bekerhja di sebuah perusahaan surat kabar.
f.        Stefan Rudolfski         : Didalam novel ini, Stefan tergambar sebagai teman dari                                Rangga di winna. Dia adalah orang yang berkeinginta-                                         huan kuat, kritis, usil, dan baik.
g.    Muhammad Khan: Tergambar sebagai salah satu teman Rangga. Dia adalah                                       oang yang baik, sabar dalam menghadapi setiap                                                    pertanyaan dan ocehan Stefan, serta seorang yang kritis.
h.    Markus Reihand         : Didalam novel ini, Reihand tergambar sebagai Dosen                                     sekaligu Kurator Beasiswa Rangga. Dia adalah seorang                                          yang baik, dan ingin dikenal orang-orang besar.
i.     Andy Cooper    : Tergambar sebagai presenter papan atas. Ia merupakan                                           presenter idola Hanum. Dia adalah seorang yang pintar,                                       keren, dan berpenampilan unik serta memukau setiap kali                                    dia menjadi pembawa acara di acara besar.
j.         Azima Hussein  : Didalam novel ini, Azima yang memiliki nama lain Julia                                Collin. Ia adalah seoarng mualaf yang terpaksa melepas-                                      kan hijabnya setelah peristiwa WTC. Ia berwatak baik,                                               memiliki rasa penasaran yang tinggi, terutama tentang                                      apa maksud perkataan suaminya sebelum tragedi yang                                              menimpan suaminya, Penyayang,dan pintar.
k.    Hyacint Collinsworth: Didalam novel ini, Nyonya Collin merupakan orang                                        tua dari Azima yang menderita penyakit Alzhemair. Pada                                     dasarnya, ia adalah seorang ibu yang penyayang, baik.                                            Namun, setelah terserang penyakit itu dan mengetahui                                          anaknya berpindah keyakinan, ia menjadi seorang yang                                            temperamental, dan mudah menangis.
l.     Michael Jones   : Didalam novel ini, Jones tergambar sebagai seorang                                       suami yang sangat menyayangi istrinya yaitu Anna, yang                                          merupakan salah satu korban WTC. Ia adalah seorang                                          yang baik, namun karena kejadian WTC disinyalir                                                  dilakukan oleh seorang beragama Islam, dia menjadi                                               benci terhadap Islam. Dan menjadi salah satu demonstran                                           yang tak ingin diadakan pembangunan masjid di dekat                                   WTC. Namun setelah mengetahui yang sebenarnya, dia                                        mengubah cara berpikirnya tentang islam.
m.    Amala Hussein  : Didalam novel ini, Amala atau dengan nama lain Sarah                                merupakan anak tunggal Azima dengan suaminya Abe. Ia                                                adala seorang anak kecil yang baik, mudah bergaul, dan                                           ramah.
n.    Abraham Hussein       : Didalam novel ini, Abe atau Abraham merupakan                                         almarhum suami dari Azima. Ia merupakan korban WTC.                                                Ia digambarkan sebagai suami yang sayang dengan                                             istrinya, baik, taat beragama, tidak mudah menyerah, suka                                    menolong.
o.    Anna Jones       : Didalam novel ini, Anna merupakan istri dari Jones. Ia                                  merupakan atasan tempat Abe bekerja. Ia adalah wanita                                      yang sayang terhadap Jones, baik, namun dia adalah                                                 seoarang yang mudah putus asa dan mudah menyerah                                         dengan keadaan.
p.    Philipus Brown : Didalam novel ini, Brown mengalami perbahan                                             perwatakan. Pada mulanya, ia adalah seorang yang gila                                       harta, dan sombong. Namun setalah kejadian WTC yang                                      dialaminya, dan dia menjadi salah satu korban yang                                       selamat berkat bantuan Abe, dia menyadari bahwa dari                                                hal itu, ada maksud lain dari Tuhan mengapa dia selamat                                           dari kejadian itu. Kemudian ia menjadi seorang yang                                       dermawan, baik, tidak sombong, cerdas, dan lebih                                                  menghargai kehidupannya serta perduli terhadap                                                    sesama.
  • Sudut pandang : Penulis sebagai orang pertama. Terbukti dengan penggunaan                                       kata “ Aku” .
  • Gaya bahasa         : Gaya bahasa yang semakin lugas dan indah mengalir di novel                             ini dibanding novel sebelumnya. Gaya bahasa yang digunakan                                    pun tidak sulit dimengerti, karena dikemas dengan bahasa novel                 pada umumnya, Bahkan cenderung memakai gaya novel roman.
  • Amanat       :   
a.         Rasa saling toleran sesama umat beragama perlu ditanamkan                              pada setiap manusia
                            b.     Tidak boleh berburuk sangka terhadap orang lain. Dan                 menganggap orang lain kemah
    c.      Jangan salahkan kepercayaa seseorang terhadap perlakuan atau perilaku orang tersebut. Karena yang sesungguhny bersalah adalah pribadi orang tersebut. Bukan kesalahan kepercayaan yang dianutnya
   d,      Menghindari diri dari sikap diskriminasi.    
e.     Menanamkan suatu keyakinan pada diri sendiri. Bahwa kita bisa melakukan sesuatu dengan bersungguh sungguh dan selalu mengharap ridha dari-Nya.
f.       Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Tuhan memperlihatkan cara kerja-Nya yang luar biasa. Bahwa segala sesuatu yang telah terjadi adala takdir yang indah dari Tuhan.
2.3   Unsur Ekstrinsik
  • Nilai moral  :
Dalam novel ini, tersirat nilai-nilai moral antara lain
-          Sikap dan tindakan seorang anak yang ingin selalu membahagiakan orang tuanya. Tergambar ketika Getrund ingin mematuhi setiap perintah Ibunya dan mengabulkan semua keinginan Ibunya di akhir hayatnya.
-          Rasa tanggungjawab terhadap tugas yang telah diberikan.


  • Nilai sosial   :
Ditinjau dari nilai sosialnya, novel ini begitu kaya akan nilai sosial . Hal ini dibuktikan dengan para tokoh saling tolong menolong walaupun belum saling kenal satu dengan yang lain. Dan nilai sosial lainnya antara lain:
-        Sikap Philipus Brown yang suka menyedekahkan hartanya kepada sesama manusia lain yang sangat membutuhkan.
-          Membantu teman dalam susah. Ketika Getrund memiliki masalah dengan  perkataan ibunya sekaligus masalah yang akan menimpa surat kabar tempat dia dan Hanum bekerja, Hanum membantu Getrund menyelesaikannya dengan memberi saran kepada Getrund tentang pernyataan ibunya yang ingin meninggal secara damai serta Hanum menerima beban berat untuk menyelamatkan surat kabar tersebut dengan membuat artikel yang bisa jadi memojokkan keyakinannya

  • Nilai Budaya
Dalam novel ini, terkandung nilai budaya antara lain:
-          Sapaan setiap kali bertemu dengan orang lain. Hal ini tergambar ketika Hanum selalu mengucapkan sapaannya kepada Getrund ketika berjumpa dengannya


  • Nilai Agama
Nilai agama pada novel ini juga tergambar secara jelas.
          -        Dalam  setiap pekerjaan, selalu berserah diri kepada-Nya
            -          Saling toleran antar sesame umat beragama
            -          Percaya dan yakin bahwasannya semua yang terjadi kepada manusia                 adalah kehendak Sang Maha Pencipta dan merupakan yang terbaik bagi                 umat-Nya.
            -          Keteguhan hati akan kepercayaan yang telah dipilih.

2.4   Kelebihan Buku

  • Novel yang satu ini bisa dikatakan novel religious kontemporer bertemakan sejarah Islam, seperti novel best seller Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra yang sebelumnya mengangkat tema sejenis yaitu 99 Cahaya di Langit Eropa.

  • Secara umum, sang penulis ingin menceritakan bahwa dunia tidak akan lebih baik tanpa Islam. Penulis mencoba mengutarakan itu semua lewat novel ini. Bahwa Islam itu memang diperlukan dan dunia tidak akan lebih baik tanpa Islam.
“Dunia Tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian.”
“Islam tanpa amalan adalah kehampaan.”
“Amalan tanpa iman adalah kegelapan.”

  • Cerita dibuka dengan kejadian pembajakan pesawat Colgan Air yang menabrak menara kembar WTC atau yang biasa dikenal dengan peristiwa 9/11. Kemudian alur cerita maju ke delapan tahun kemudian. Ketika Hanum akhirnya ditugaskan untuk menulis artikel dengan tema “Would the world be better without Islam?”. Berkenaan dengan peringatan 1 windu tragedi 9/11. Pada mulanya, Hanum menolak untuk meliput artikel tersebut, namun akhirnya setuju untuk membuktikan bahwa dunia tidak akan lebih baik tanpa Islam. Dan secara kebetulan diwaktu yang bersamaan Rangga harus menghadiri konferensi bisnis di Amerika.Akhirnya dimulailah petualangan sepasang suami istri ini di negeri paman sam. Untuk menjawab itu semua.

  • Gaya penulisan buku kali ini sedikit berbeda dari buku sebelumnya, dimana penulis menggunakan peralihan karakter yang saling mengisi satu sama lain dengan alur yang bergerak maju. Sehingga buku ini terasa ringan untuk dibaca.

  • Selain itu, menepis pola pikir kita bahwa muslim identik dengan seorang teroris. Karena dalam novel ini memberikan perspektif bagaimana muslim tidaklah pantas diidentikkan dengan teroris, karena itu adalah tragedi kemanusiaan, ulah segelintir orang yang menggunakan nama Islam.

  • Novel ini adalah cerita fiksi. Jadi ketika alurnya seakan terlihat terlalu dramatis dan too miraculous to be real. Memang karena cerita ini bukan sepenuhnya kisah nyata. Justru di situlah apresiasi saya kepada penulis karena mampu merangkai kisah demi kisah yang bertebaran menjadi satu bingkai cerita yang sarat hikmah.

  • Novel ini disertakan dengan peta daerah di Amerika Serikat yang di kunjungi pasangan suami-isti ini. Dengan begitu, para pembaca dibantu untuk lebih mengerti dan memahami lokasi setiap kejadian yang tertuang dalam novel ini.

  • Terdiri atas sub judul. Sehingga setiap rangkaian kejadian cerita lebih spesifik.

2.5   Kekurangan Buku
  • Setting waktu dari novel ini masih sama seperti buku 99 Cahaya di Langi eropa, ketika Hanum dan Rangga bermukim di Austria. Saat itu, Hanum yang akhirnya bekerja menjadi reporter di suatu harian di Wina bernama Heute ist Wunderbar (Today is Wonderful), mendapat tugas berat dengan topik, “Would the world be better without Islam?” . Misi itu mengharuskannya pergi ke Amerika untuk menggali lebih lanjut keadaan disana pasca tragedi WTC. Di saat yang sama, Rangga juga mendapat tugas untuk hadir dalam acara konferensi di negara adidaya itu oleh supervisornya. Ditambah lagi sebuah tugas sampingan untuk mengejar Philipus Brown, miliuner asal AS yang “nyentrik” supaya bersedia menjadi visiting lecturer di kampusnya.

  • Beberapa aspek keterkaitan Islam dalam sejarah Amerika juga disinggung dalam
buku ini. Tentang para Moriscos dari Spanyol, Thomas Jefferson, sampai simbol-simbol Islam yang ternyata ada dalam beberapa institusi pemerintahan dan pendidikan di Amerika. Mungkin bisa dibilang kurang, karena terkesan sebagai cerita pelengkap dan hanya sepotong-sepotong.  Fokus utamanya memang lebih pada cerita dibalik tragedi kemanusian 9/11 itu. 

  • Buku ini tidak terlalu apik menceritakan bahwa ternyata simbol-simbol dan ruh Islam terpampang jelas di Supreme Court alias Mahkamah Agung Amerika, gerbang Harvard Law School, Declaration of Independence alias Proklamasi Kemerdekaan Amerika, museum Thomas Jefferson, Abraham Lincoln yang ternyata keturunan Melungeon, dan adanya teori bahwa Christophorus Columbus maupun Amerigo Vespucci bukanlah orang pertama yang menemukan Amerika, melainkan pelaut muslim. Mungkin karena hal-hal ini tidak mereka peroleh berdasarkan pengalaman nyata menyaksikannya seperti pada 99 Cahaya di Langit Eropa, melainkan dari informasi yang telah mereka riset.

  • Tidak serta merta buku ini bisa diterima oleh pembaca yang memiliki keyakinan berbeda. Karena perspektif yang digunakan sangat Islami, mengingat penulis (Hanum-Rangga) juga merupakan seorang muslim. Namun bagi mereka yang mau berpikir terbuka, buku ini mampu menambah ruang kebijaksanaannya dalam memahami sesuatu.

  • Menggunakan bahasa asing. Sebagian pembaca lain mungkin tidak paham arti bahasa itu. Sehingga mempersulit pembaca memaknai bacaan tersebut.
  • Terdapat bahasa yang jarang didengar oleh sebagian pembaca, antara lain : tenggat, demensia, ergonomis, melankolis, surel, filantropi, dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan kurang pemahaman pembaca terhadap bacaan tersebut.

2.6   Penggunaan Bahasa
Gaya bercerita buku ini berbeda sekali dengan buku-buku Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra sebelumnya. Tidak seperti 99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya yang non-fiksi, buku ini tidak hanya mengisahkan pengalaman traveling dan pertemuan dengan tokoh-tokoh yang menginspirasi untuk menjadi agen muslim yang baik, tetapi juga ditambah kisah-kisah yang diinspirasi dari media, online news, dan Youtube. Buku ini juga dibangun dari hasil sharing pengalaman dengan para mualaf dan sumber yang kredibel selama mereka menjadi wartawan (Hanum) dan mahasiswa (Rangga) di Wina. Tentu saja seperti dua buku bergenre traveling yang mereka tulis sebelumnya, semua fakta sejarah, sains, bangunan bersejarah, dan peristiwa buku ini diadaptasi dari data sebenarnya. Hasilnya, perpaduan yang ciamik banget antara fiksi dan non-fiksinya untuk buku bergenre traveling :)

BAB III
PENUTUP

3.1.  Kesimpulan

Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika ini begitu bagus karena menyuguhkan kisah perjalanan pasangan suami-istri di negara Adidaya “Amerika Serikat” yang di kolaborasikan dengan penelitian, dan cerita fiksi. Disamping itu, dalam novel ini disuguhkan beberapa nilai religi atau agama yang begitu menyentuh batin pembaca, nilai moral , nilai sosial, dan nilai budaya yang dapat kita ambil hikmahnya.

Dalam novel ini, tertulis pula kisah dan pendapat tentang kejadian tragedi 11 november 2001 di menara kembar World Trade Center yang mengakibatkan kekisruhan antara Amerika dengan Islam, Kaitan Islam dengan negara Adidaya seperti: patung Muhammad dalam pengadilan tinggi di Amerika Serikat, dan ayat al-Quran di Harvard, kisah Colombus dalam menemukan Benua Amerika, kisah suku asli Amerika (bangsa mugleon),dan riset tentang terdapat seperti bekas guratan sepanjang diameter bulan (bukan pernah terbelah dan disatukan kembali) . Walaupun pada akhirnya penulis menyatakan bahwa semuanya masih bersifat “debatable”.

Karena masih bisa diperdebatkan itulah Hanum dan Rangga justru berani mengangkatnya menjadi sebuah novel, sehingga pembaca mendapatkan keseimbangan informasi, serta mengasah cara berpikit yang tidak linier atau out of the box. Sebuah novel yang menginspirasi, mengajak pembaca membuat pola piker dan berimajinasi tinggi, serta mengambil hikmah dari ini semua.


3.2.     Saran

Bagi pembaca dari segala usia dan agama terutama Islam yang suka membaca novel, novel Bulan Terbelah di Langit Amerika ini menjadi salah satu novel yang layak untuk di rekomendasikan bagi para pencinta novel.Isinya yang memadukan penelitian,kisah nyata dan fiksi akan memberikan nuansa tersendiri bagi para pembacanya.